Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah seiring dengan memanasnya perang dagang usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru untuk sejumlah negara mitra dagang.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (4/4/2025) hingga pukul 20.53 WIB, kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) yang diperdagangkan di pasar luar negeri ambrol ke level Rp17.006 per dolar AS atau mengalami penurunan 1,58%.
Kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden AS Donald Trump telah diperkirakan dapat melemahkan nilai tukar rupiah. Trump diketahui mengumumkan kebijakan tarif resiprokal yang berdampak signifikan bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Dalam kebijakan ini, produk non-migas Indonesia dikenakan tarif sebesar 32% saat memasuki pasar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan kebijakan tarif Trump membuat nilai rupiah kembali mengalami tekanan. Dia memperkirakan rupiah akan melemah hingga ke level Rp17.000 per dolar AS.
“Perang dagang ini bisa membuat mata uang rupiah kembali melemah, dan kemungkinan besar dalam minggu-minggu ini pembukaan pasar di level Rp16.900 dan ada kemungkinan besar pecah telur juga di Rp17.000,” kata Ibrahim.
Baca Juga
Adapun, kondisi perang dagang memanas usai China mengumumkan tarif balasan terhadap AS. China bakal mengenakan tarif tambahan sebesar 34% untuk semua produk asal AS.
"Tarif tersebut akan berada di atas tarif yang berlaku saat ini," demikian keterangan Kementerian Keuangan China.
Sementara, Kementerian Perdagangan China menyampaikan pembatasan ekspor sejumlah komoditas ke AS, seperti samarium, gadolinium, terbium, diprosium, lutetium, scandium, dan itrium mulai hari ini.