Data menunjukkan bahwa dalam 20 tahun terakhir, IHSG rata-rata turun sekitar 2,09% pada bulan Mei, dengan 13 kali penurunan, 6 kali kenaikan, dan 1 kali stagnan.
Pasar saham pun diproyeksikan akan menghadapi tekanan seiring dengan ragam sentimen negatif yang menyertai.
"Sentimen negatif salah satunya outflow dana asing sepanjang 2025, di mana terjadi net sell asing sebesar Rp50,7 triliun, menunjukkan tekanan jual dari investor asing," kata Felix.
Kemudian, sentimen lainnya adalah aksi ambil untung atau profit taking investor. Lalu, terdapat sentimen ketidakpastian global, di mana kebijakan tarif impor AS dan dinamika perdagangan global dapat memengaruhi gerak pasar.
Namun, terdapat pula dorongan dari ragam sentimen positif. Kinerja keuangan emiten per kuartal I/2025 misalnya, dinilai solid dan dapat meningkatkan kepercayaan investor.
Sentimen positif lainnya adalah stabilitas politik serta ekonomi domestik, di mana kondisi makroekonomi Indonesia stabil dan dapat menarik minat investor.
Baca Juga
Selain itu, terdapat dorongan dari penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Penguatan rupiah didorong oleh relaksasi tensi dagang antara AS dan China yang menjadikan investor global mulai masuk ke aset dengan risiko yang lebih agresif, sembari mengurangi porsinya di aset safe haven.