Bisnis.com, JAKARTA — PT Medco Power Indonesia masih mengkaji waktu yang tepat untuk melantai di bursa efek atau melakukan initial public offering (IPO).
Anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) itu belakangan mengerek target penjualan listrik mencapai 4.500 gigawatt per hour (GWh) pada tahun ini, lebih tinggi 9,75% dari torehan sepanjang 2024.
“Harus dicari waktu yang tepat kapan suasananya, tentu ada cita-cita itu, kapannya itu masih kita pertimbangkan,” kata Direktur Utama Medco Power, Eka Satria ditemui di Jakarta, Kamis (27/2/2025).
Eka mengatakan perseroannya belakangan berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid sekitar 10% sampai dengan 15% beberapa waktu terakhir.
Dia berpendapat perusahaan berbasis energi baru terbarukan (EBT) bakal punya daya tarik sendiri untuk jangka panjang.
“Ukuran perusahaan kita lumayan sih, setiap tahun kita tumbuh 10% sampai dengan 15% karena memang industri ini sangat menarik,” kata dia.
Baca Juga
Seperti diketahui, MEDC lewat anak usahanya Medco Power Indonesia memastikan 3 proyek ekspansi bakal beroperasi komersial awal tahun ini. Total tambahan kapasitas setrum bersih dari ketiga proyek itu mencapai 199 megawatt (MW).
Ketiga proyek itu di antaranya PLTP Ijen memiliki kapasitas setrum 100 MW, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Bali dengan kapasitas 2x25 megawatt peak (MWp) dan proyek PT ELB dengan tambahan 39 MW.
Proyek panas bumi dikerjakan Medco Power lewat anak usahanya, PT Medco Cahaya Geothermal. Pada perusahaan ini, Medco Power menggenggam saham sebesar 51%. Sisanya 49% dipegang PT Ormat Geothermal Power.
Wilayah kerja panas bumi Blawan Ijen terletak di Jawa Timur dan meliputi tiga kabupaten yaitu Bondowoso, Banyuwangi dan Situbondo. Konsorsium Medco dan Ormat mendapatkan wilayah kerja panas bumi ini lewat lelang pada 2010.
Belakangan, konsorsium Medco-Ormat dinyatakan sebagai pemenang dengan masa pengembangan selama 35 tahun, berlaku efektif sejak 2011.
Di sisi lain, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mendapatkan penugasan pembelian tenaga listrik PLTP Ijen dengan harga sesuai hasil lelang wilayah kerja panas bumi (WKP) dari Menteri ESDM pada Desember 2011 di level US$8,58 sen per kWh.
Direktur & Chief Financial Officer Medco Power Indonesia Myrta Sri Utami mengatakan rencana COD ketiga pembangkit ini bakal ikut mengerek pendapatan perseroan untuk tahun buku 2025.
Hanya saja, Myrta enggan memerinci detail potensi tambahan pendapatan Medco dari operasi komersial ketiga proyek tersebut.
“Pendapatan akan mengikuti, kapasitas bertambah, power sales juga akan bertambah,” kata Myrta saat ditemui di Jakarta, Minggu (1/12/2024).
Sementara itu, Medco berkongsi dengan Solar Phillipines Power Project Holdings, Inc untuk membangun proyek PLTS di Bali, lewat anak usaha patungan PT Medco Solar Bali Timur dan PT Medco Solar Bali Barat.
Lewat dua anak usaha itu, Medco menggenggam saham mayoritas 51%, sisanya dipegang Solar Phillipines Power Project Holdings, Inc.
Rencanannya, PLN bakal membeli listrik dari PLTS garapan konsorsium Medco ini dengan harga masing-masing US$5,92 sen per KWh untuk PLTS Bali Barat dan US$5,59 untuk PLTS Bali Timur.
Selain itu, Medco berpotensi ikut mendapat pendapatan dari proyek tambahan pembangkit listrik siklus gabungan atau ELB Add On sebesar 39 MW dari kapasitas bersih perjanjian jual beli listrik yang ada saat ini sebesar 2x35 MW.