Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) melemah saat para pelaku pasar mencerna dampak kebijakan tarif baru Presiden Donald Trump yang memicu kekhawatiran global.
Melansir Reuters, Jumat (4/4/2025), setelah sempat terpukul ke level terendah terhadap euro dan pound dalam enam bulan terakhir, dolar AS berusaha bangkit namun tetap bergerak hati-hati.
Sorotan kini tertuju pada data tenaga kerja AS yang dirilis hari ini, yang akan memberikan gambaran penting mengenai kekuatan ekonomi dan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama global lainnya terpantau melemah 0,16% atau 0,17 poin ke level 101,90 pada pukul 10.18 WIB.
Terhadap yen Jepang, dolar melemah 0,15% menjadi 145,89 setelah sempat anjlok 2,2% sehari sebelumnya ke posisi terendah sejak awal Oktober. Euro naik tipis 0,08% ke US$1,1060, usai mencatat lonjakan tajam ke US$1,1147 pada Kamis, tertinggi sejak September lalu. Poundsterling stabil di US$1,3103.
Kebijakan tarif Trump yang lebih keras dari ekspektasi telah mengguncang pasar finansial. Saham mengalami aksi jual besar-besaran, memicu pelarian modal ke aset-aset aman seperti obligasi dan emas, seiring kekhawatiran bahwa perang dagang penuh bisa mendorong ekonomi global ke jurang resesi sekaligus memicu inflasi.
Baca Juga
Sejak awal tahun, sentimen terhadap dolar sudah tertekan, seiring ekspektasi terhadap agenda kebijakan Trump berubah menjadi ketakutan atas proteksionisme yang berlebihan dan potensi stagnasi ekonomi.
“Ketidakpastian adalah kata kunci 2025,” tulis Kepala Riset Pepperstone Chris Weston seperti dilansir Reuters.
Ia mencatat bahwa meskipun tarif dan timeline sudah diumumkan, kepercayaan terhadap dolar terus memudar.
Peringatan serupa disampaikan Deutsche Bank, yang menyebut risiko krisis kepercayaan terhadap dolar meningkat, dengan potensi pergeseran besar dalam aliran modal global yang bisa memicu gejolak mata uang.
Trump menetapkan tarif dasar 10% untuk seluruh impor, dengan tambahan tarif khusus, termasuk 20% untuk produk dari Uni Eropa, 24% untuk Jepang, dan total tarif gabungan sekitar 54% untuk China.
UE dan China merespons dengan ancaman balasan, meningkatkan ketegangan dan memperbesar risiko perang dagang skala penuh.
Di tengah libur nasional di China, yuan di pasar offshore melemah tipis 0,13% ke 7,2686 per dolar, setelah sebelumnya sempat melonjak tajam pada Kamis.
Terkait data tenaga kerja AS, ekonom memperkirakan pertambahan 135.000 lapangan kerja pada Maret, turun dari 151.000 bulan sebelumnya. Tak lama setelah laporan tersebut dirilis, Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan menyampaikan pandangannya soal arah ekonomi.