Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja yang jeblok pada awal tahun ini didorong oleh sejumlah faktor. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun ancang-ancang mengambil langkah untuk menahan penurunan tersebut.
Berdasarkan data Bloomberg, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,31% menjadi 6.270 pada hari ini, Jumat (28/2/2025). Adapun, level IHSG kali ini merupakan yang terendah dalam empat tahun terakhir, sejak 2021.
IHSG sudah terjun 11,43% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025.
Seiring dengan pelemahan indeks komposit, dana asing terpantau lari dari pasar saham Indonesia. Nilai jual bersih atau net sell asing mencapai Rp2,93 triliun di pasar saham Indonesia pada perdagangan hari ini. Sepanjang tahun berjalan, eksodus net sell asing sudah keluar Rp21,9 triliun.
Seiring dengan jebloknya pasar saham Indonesia, BEI pun ambil langkah. Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengatakan Bursa akan mengadakan pertemuan dengan pelaku pasar, untuk mengambil keputusan. Menurutnya, akan ada tindakan yang terjadi apabila Bursa melihat kondisi pasar tidak reguler seperti saat Covid-19.
"Jika dalam diskusi nanti hasilnya kondisi pasar tidak reguler, maka sangat memungkinkan penerapan short selling bisa ditunda," ujar Jeffrey, Jumat (28/2/2025).
Baca Juga
BEI sebelumnya menyampaikan akan meluncurkan layanan short selling dan intraday short selling pada kuartal II/2025 ini. Terdapat sejumlah saham yang bisa ditransaksikan dalam mekanisme ini.
Jeffrey mengatakan short selling diluncurkan untuk memberikan kesempatan ke investor agar bisa mengoptimalkan profitabilitas mereka dalam kondisi ketidakpastian dan kondisi pasar yang bergejolak dalam waktu singkat.
Dia melanjutkan, keberadaan short selling dan intraday short selling ini akan bisa menambah likuiditas bagi pasar modal Indonesia, sehingga investor akan lebih mudah untuk melakukan pembelian dan penjualan karena tersedianya likuiditas yang cukup.
Bursa juga melakukan berbagai upaya untuk meredam outflow asing dan pelemahan IHSG ini. Salah satunya dengan rutin melakukan roadshow ke beberapa negara yang menjadi sumber investor asing.
"Kami secara rutin melakukan roadshow ke beberapa negara yang jadi sumber investor asing kami, untuk memberikan informasi yang tepat, yang benar terkait kondisi pasar kita, agar mereka bisa kembali investasi di Indonesia," kata Jeffrey.
Investment Analyst PT Capital Asset Management Martin Aditya mengatakan faktor-faktor pendorong pelemahan pasar saham Indonesia di antaranya rupiah yang masih terus melanjutkan pelemahannya seiring dengan indeks dolar AS yang masih cenderung tinggi. Hal ini juga disebabkan oleh geopolitik global yang tidak menentu salah satunya terkait kebijakan tarif impor AS.
Seiring dengan pelemahan pasar saham Indonesia, menurutnya Bursa maupun regulator bisa menjalankan berbagai langkah.
"Diharapkan Bursa maupun regulator mengkaji untuk membuat lebih banyak variasi produk investasi sehingga terdiversifikasi instrumennya dan juga memberikan data yang lebih transparan serta mudah diakses," kata Martin kepada Bisnis pada Jumat (28/2/2025).
Ke depan, menurutnya terdapat peluang perbaikan kondisi pasar didorong oleh berbagai faktor, salah satunya adalah perbaikan kinerja keuangan emiten perbankan.
"Mengingat, bobot perbankan di IHSG masih sangat besar, kebijakan suku bunga global maupun domestik yang lebih longgar akan menjadi game changer," katanya.
Lalu, kebangkitan perekonomian China juga bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengingat saat ini China merupakan mitra dagang yang paling besar bagi Indonesia, setelah AS.
"Investor juga masih menunggu performa pengelolaan aset Danantara yang diharapkan akan menambah aliran modal pada pasar modal Indonesia," tutur Martin.
Namun, menurutnya katalis-katalis yang dapat mendorong kenaikan IHSG itu dihadapkan pada tantangan suku bunga global yang tinggi serta kebijakan geopolitik yang tidak menentu.
"Pemerintah juga harus berhati-hati dalam mengelola aset superholding BUMN tersebut dengan memiliki GCG [good corporate governance] yang baik," kata Martin.
Sementara itu, Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan faktor pendorong ambruknya pasar saham antara lain kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
"Diperhatikan juga Trump memberikan tarif terhadap tembaga. Atas hal ini pasar cukup dalam turun," katanya kepada Bisnis pada Jumat (28/2/2025).
Terdapat pula faktor dalam negeri yang membuat pasar saham jeblok, yakni efisiensi anggaran pemerintah.
Adapun, menurutnya salah satu cara yang bisa mendorong pasar saham di antaranya langkah buyback emiten besar seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI). "Ini golden momen. Ini saham-saham [BBNI, BBRI, dan BMRI] yang fundamental baik di masa yang mendatang. Ini positif bagi pelaku pasar dan investor," ujar Nico.
Sentimen lainnya yang mampu mendorong pasar adalah kebijakan suku bunga BI.
"Kami pikir ada amunisi [penurunan suku bunga]. Akan tetapi kalau dipangkas lagi, ada kemungkinan rupiah melemah lebih dalam," kata Nico.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.