Bisnis.com, JAKARTA – Emiten Grup Astra, PT Acset Indonusa Tbk. (ACST) berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement sebanyak 5 miliar saham baru.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), ACST bakal menerbitkan 5 miliar saham baru yang setara dengan 39% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah transaksi dengan nominal Rp100 per saham.
“Perseroan berencana untuk menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari penambahan modal untuk memperkuat struktur permodalan guna mendukung kegiatan dan pengembangan usaha, serta meningkatkan posisi keuangan,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi, Rabu (26/3/2025).
Penambahan modal dilakukan lantaran ACST memiliki modal kerja negatif sebesar Rp420,13 miliar dan rasio liabilitas terhadap total aset mencapai 105% pada 2024.
Manajemen meyakini aksi korporasi ini dapat meningkatkan fleksibilitas keuangan serta mendukung kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Ini termasuk mendorong rasio lancar dari 0,9x menjadi 1x dan menurunkan total liabilitas sebesar 16%.
“Rencana penambahan modal ini berpengaruh positif terhadap kondisi keuangan konsolidasi perseroan dan entitas anak, yaitu antara lain akan memperbaiki kondisi ekuitas negatif yang dicatatkan perseroan,” ungkap manajemen Acset Indonusa.
Baca Juga
Dalam skema private placement tersebut, pemegang saham utama sekaligus pengendali yakni PT Karya Supra Perkasa (KSP) telah menyatakan niatnya untuk menyerap seluruh saham baru yang diterbitkan oleh perseroan.
Dengan demikian, kepemilikan KSP di ACSET berpotensi meningkat dari 87,69% menjadi 91,2%, sementara porsi kepemilikan publik akan terdilusi menjadi 8,8%.
Sementara itu, kepemilikan pemegang saham selain KSP, akan turun atau terdilusi 28% dengan asumsi jumlah saham baru yang diterbitkan mencapai 5 miliar saham.
Aksi korporasi ini akan dilakukan setelah perseroan mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Mei 2025, dan tunduk pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.