Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah ditutup melemah pada Rabu (22/1/2025) setelah Presiden AS Donald Trump memperluas ancaman tarifnya terhadap China dan Uni Eropa.
Sementara itu, pelaku pasar terus mengevaluasi dampak dari sanksi besar-besaran Amerika Serikat terhadap Rusia.
Melansir Bloomberg, Kamis (23/1/2025), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2025 ditutup melemah 0.39 poin ke US$75,44 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Maret juga melemah 0,29 poin ke US$79 per barel.
Penurunan harga ini dipengaruhi oleh kekhawatiran dampak konflik dagang global yang berpotensi menekan konsumsi energi dan pertumbuhan ekonomi.
Trump berencana menerapkan tarif baru sebesar 10% untuk China dan Uni Eropa, menyusul ancaman tarif hingga 25% pada barang impor dari Kanada dan Meksiko, dua pemasok minyak utama AS.
Baca Juga
Goldman Sachs mengatakan kekhawatiran tarif pada minyak Kanada telah memicu lonjakan ekspor ke AS sebelum aturan berlaku, meskipun hal ini berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri.
Sanksi AS terhadap minyak Rusia, yang dianggap paling komprehensif hingga saat ini, diperkirakan akan mengurangi pasokan hingga 2 juta barel per hari, menurut Indian Oil Corp.
Akibatnya, harga minyak mentah Dubai melonjak karena pedagang berebut pasokan alternatif. Trump juga menyatakan kemungkinan penambahan sanksi jika Presiden Vladimir Putin tidak menunjukkan kemajuan dalam negosiasi terkait Ukraina.
Harga minyak di awal tahun ini tetap didukung oleh sanksi terhadap Rusia dan permintaan energi yang meningkat akibat musim dingin ekstrem di belahan bumi utara.
Namun, analis mencatat bahwa tren kenaikan ini didorong oleh faktor sementara, seperti lonjakan ekspor China sebelum tarif AS berlaku dan kekhawatiran terkait risiko sanksi AS terhadap Rusia.
“Tren kenaikan minyak pada 2025 ini lebih mencerminkan momentum bullish yang tidak berkelanjutan, didorong oleh faktor sementara seperti permintaan musim dingin dan spekulasi terhadap risiko pasokan,” ujar analis pasar Forex.com Razan Hilal.