Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gerak Harga Minyak Usai Trump Umumkan Tarif Impor Jumbo

Harga minyak dunia terpantau anjlok pada perdagangan Kamis (3/4/2025) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik pada mitra dagang.
Pompa angguk atau pump unit dan drilling rigs beroperasi di kilang minyak dekat Laut Kaspia, Baku, Azerbaijan. / Bloomberg-Andrey Rudakov
Pompa angguk atau pump unit dan drilling rigs beroperasi di kilang minyak dekat Laut Kaspia, Baku, Azerbaijan. / Bloomberg-Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia terpantau anjlok pada perdagangan Kamis (3/4/2025) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik pada mitra dagang. Penurunan harga minyak itu seiring kekhawatiran baru bahwa perang dagang global dapat mengurangi permintaan minyak mentah.

Melansir Reuters, harga minyak mentah jenis Brent turun US$1,97, atau 2,63%, menjadi US$72,98 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate AS juga turun US$1,98, atau 2,76%, menjadi US$69,73 per barel.

Kedua harga minyak acuan itu ditutup lebih tinggi pada sesi sebelumnya. Tetapi, pergerakan harga berubah negatif selama konferensi pers Trump pada Rabu sore waktu Amerika terkait tarif timbal balik.

Dalam konferensi pers tersebut, dia mengumumkan tarif dasar 10% untuk semua impor ke Amerika Serikat dan bea masuk yang lebih tinggi untuk puluhan mitra dagang terbesar negara itu.

"Kami tahu ini akan berdampak negatif pada perdagangan, pertumbuhan ekonomi, dan dengan demikian pertumbuhan permintaan minyak. Namun kami tidak tahu seberapa buruk dampaknya karena dampaknya akan terasa beberapa saat lagi," kata Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB.

Adapun, impor minyak, gas, dan produk olahan dibebaskan dari tarif baru Presiden AS Donald Trump, kata Gedung Putih pada hari Rabu. 

Kebijakan tarif Trump dapat memicu inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan mengintensifkan sengketa perdagangan, kemungkinan yang telah membebani harga minyak. 

Keputusan politik itu memperkuat sentimen bearish, data Badan Informasi Energi pada Rabu menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat secara mengejutkan sebesar 6,2 juta barel minggu lalu, bertentangan dengan perkiraan analis untuk penurunan sebesar 2,1 juta barel.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper