Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Trump Umumkan Tarif Impor, Indeks Dolar AS Jeblok

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 16.00 WIB, indeks dolar AS spot (DXY) merosot 1,6 poin atau 1,55% ke posisi 102,2030.
Ilustrasi modal asing dalam bentuk mata uang dolar AS. Dok Freepik
Ilustrasi modal asing dalam bentuk mata uang dolar AS. Dok Freepik

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks dolar Amerika Serikat merosot pada Kamis (3/4/2025) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor terhadap mitra dagang AS di seluruh dunia.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 16.00 WIB, indeks dolar AS spot (DXY) merosot 1,6 poin atau 1,55% ke posisi 102,2030. 

Indikator nilai tukar dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama itu melemah setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor minimal 10% terhadap mitra dagang AS. Pengumuman itu dilakukan Trump dalam sebuah acara di Rose Garden, Gedung Putih pada Rabu (2/4/2025) waktu setempat. 

Lebih terperinci, nilai tukar dolar AS melemah terhadap yen Jepang, dolar Kanada, franc Swiss, dolar Hong Kong, dan won Korea Selatan. 

Nilai tukar dolar AS tercatat melemah 1,65% terhadap yen Jepang dan turun 1,76% terhadap franc Swiss. Pada saat yang sama, dolar AS turun tipis 0,73% terhadap dolar Kanada, -0,03% terhadap dolar Hong Kong, dan turun 0,35% terhadap won Korea Selatan. 

Euro juga terpantau menguat 1,65% terhadap dolar AS. Sementara itu, dolar AS masih perkasa di hadapan pound sterling Inggris dengan penguatan 0,26%. 

Ray Attrill, Head of Foreign-Exchange Strategy di National Australia Bank Ltd., mengatakan meningkatnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi AS setelah penerapan tarif impor dan rembetannya terhadap pasar saham AS telah membuat dolar AS tidak membukukan penguatan pada perdagangan hari ini. 

“Dolar AS tidak menikmati posisinya sebagai safe haven atau mata uang yang menjadi cadangan devisa global,” ujar Attrill seperti dilansir Bloomberg, Kamis (3/4/2025). 

Risiko perlambatan ekonomi AS juga terefleksi pada proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed yang menambah tekanan terhadap dolar AS. Peluang The Fed memangkas suku bunga pada Juni 2025 meningkat dari 74% pada Rabu menjadi 84%. Pada saat yang sama, yield US Treasury merosot mendekati level 4%. 

“Pasar bertaruh melawan The Fed. Mereka menilai pertumbuhan ekonomi AS yang lebih lemah—tecermin dari kenaikan angka pengangguran—akan mengalahkan oleh risiko kenaikan inflasi akibat pengenaan tarif impor Trump.” 

Menurut Attrill, pasar melihat kondisi itu dapat mendorong The Fed mengambil keputusan pelonggaran suku bunga lebih cepat dibandingkan dengan retorika dan dot plot yang disampaikan bank sentral AS itu sebelumnya. 

Apabila ekspektasi pasar itu terbukti dan penurunan yield US Treasury berlanjut, dia memperkirakan dolar AS akan lanjut melemah dalam beberapa bulan ke depan. 

Proyeksi bearish terhadap dolar AS juga disampaikan oleh ahli strategi Deutsche Bank termasuk George Saravelos. Menurutnya, sentimen pasar terhadap dolar AS terfokus pada proyeksi pertumbuhan ekonomi dan outlook kebijakan fiskal AS yang menimbulkan kekhawatiran tentang kredibilitas kebijakan Trump.

Sementara itu, penguatan yen Jepang terjadi saat Trump menerapkan tarif impor resiprokal sebesar 24% terhadap negeri Sakura. 

Carol Kong, ahli strategi dari Commonwealth Bank of Australia memperkirakan yen Jepang cenderung menguat sejalan dengan bergulirnya kebijakan tarif Trump. 

“Katalis positif berikutnya untuk penguatan mata uang lindung nilai [safe haven] dan pelemahan mata uang berisiko adalah retaliasi atau tarif balasan dari negara lain terhadap AS yang berisiko memantik tarif yang lebih tinggi dari AS,” seperti dilansir Bloomberg

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ana Noviani
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper