Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

US$2 Triliun Lenyap dari Indeks S&P 500 setelah Pengumuman Tarif Trump

Valuasi saham-saham yang tergabung dalam Indeks S&P 500 lenyap sekitar US$2 triliun setelah Trump mengumumkan penerapan tarif impor tinggi ke mitra dagang
Pialang berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, Amerika Serikat. Bloomberg/Michael Nagle
Pialang berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, Amerika Serikat. Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA — Valuasi Indeks S&P 500 di bursa saham New York lenyap sekitar US$2 triliun pada perdagangan Kamis (3/4/2025) waktu setempat di tengah kekhawatiran investor terhadap kebijakan tarif impor terbaru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Langkah proteksionis Trump membuat Wall Street memerah, dengan koreksi saham terdalam dialami oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap rantai pasok manufaktur luar negeri.

Apple Inc., yang memproduksi sebagian besar perangkatnya di China untuk dijual di AS, terpantau anjlok hingga 9,5%. Saham perusahaan apparel Lululemon Athletica Inc. dan Nike Inc., turun lebih dari 12%. Kedua perusahaan tersebut tercatat memiliki jaringan produksi dengan Vietnam yang diganjar tarif impor timbal balik sebesar 46% oleh Trump.

Sementara itu, perusahaan ritel dengan pasokan produk impor seperti Target Corp. dan Dollar Tree Inc. mengalami penurunan lebih dari 10%.

Bloomberg mencatat bahwa nyaris tidak ada saham di AS yang luput dari gelombang tarif Trump. Penurunan Indeks S&P 500 kali ini bahkan menjadi yang terbesar sejak 2022. Lebih dari 80% perusahaan konstituen S&P 500 diperdagangkan lebih rendah pada pukul 10:20 pagi waktu New York, dengan hampir dua pertiga dari 500 sahamnya turun setidaknya 2%.

“Tidak ada yang benar-benar lolos. Hari ini, kita melihat aksi jual besar-besaran, di mana investor mengurangi risiko secara menyeluruh di berbagai sektor,” kata Garrett Melson, ahli strategi portofolio di Natixis Investment Managers Solutions.

Skala dan dampak tarif diperkirakan bakal jauh lebih besar dibandingkan dengan yang pernah diterapkan Trump pada periode pertama pemerintahannya. Kebijakan ini juga berpotensi mengacaukan rantai pasokan global, memperparah perlambatan ekonomi, dan meningkatkan inflasi. Investor pun kesulitan memperkirakan dampak tarif terhadap laba perusahaan.

“Jika Apple, misalnya, menanggung lonjakan biaya akibat tarif yang diterapkan terhadap China, margin laba kotor produsen iPhone ini bisa terpukul hingga 9%,” tulis Citigroup dalam analisis yang dipimpin oleh Atif Malik.

Menurut Michael Feroli, ekonom JPMorgan, kebijakan ini setara dengan kenaikan pajak terbesar sejak 1968. Ia memperkirakan tarif baru ini dapat menambah inflasi hingga 1,5% pada 2025 berdasarkan indikator inflasi pilihan The Fed, sekaligus menekan pendapatan pribadi dan konsumsi masyarakat.

“Dampak ini saja dapat mendorong ekonomi AS mendekati jurang resesi. Dan ini belum memperhitungkan penurunan ekspor bruto serta belanja investasi,” kata Feroli.

Perusahaan semikonduktor dan industri juga terpukul keras. Indeks Semikonduktor Philadelphia anjlok lebih dari 6%, dengan saham Micron Technology Inc. turun 11% dan Broadcom Inc. turun 7%. Caterpillar Inc. dan Boeing Co., yang memperoleh sebagian besar pendapatannya dari China, masing-masing turun setidaknya 6%.

Apple memimpin koreksi saham di antara perusahaan-perusahaan paling berpengaruh yang tergabung Magnificent Seven. Nilai pasar Apple hilang sekitar US$275 miliar merespons kebijakan Trump. Magnificent Seven yang juga mencakup Tesla, Microsoft, Nvidia, Alphabet, Amazon.com, dan Meta Platforms merupakan pendorong utama kenaikan pasar saham AS dalam dua tahun terakhir.

“Kami melihat 5.300 sebagai target jangka pendek untuk S&P 500, tetapi jika ketidakpastian tarif berlanjut atau negosiasi dengan mitra dagang tidak berjalan baik, risiko indeks turun hingga di bawah 5.000 menjadi nyata,” tulis Bhanu Baweja dari UBS Group AG dalam catatan kepada klien. “Kemungkinan pasar saham AS memasuki fase bearish makin meningkat.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper