Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Analis Beberkan Dampak Kebijakan Tarif Impor Trump ke Indonesia

Dalam jangka pendek, dampak penerapan tarif impor Donald Trump kepada Indonesia yang mencapai 32% adalah pelemahan nilai tukar rupiah.
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Phintraco Sekuritas mengungkapkan dampak jangka pendek yang akan membayangi Indonesia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menetapkan tarif impor 32%. 

Trump diketahui telah mengumumkan kebijakan tarif resiprokal yang berdampak signifikan bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Dalam kebijakan tersebut, produk non-migas Indonesia kini dikenakan tarif sebesar 32% saat memasuki pasar AS.

Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan bahwa berdasarkan data perdagangan, surplus perdagangan non-migas Indonesia dengan AS mencapai US$2,55 miliar selama Januari-Februari 2025. 

AS berada di peringkat ketujuh sebagai mitra dagang utama Indonesia pada periode yang sama. Produk ekspor utama yang berpotensi terdampak kebijakan tarif tersebut meliputi garmen, alas kaki, peralatan listrik, dan minyak nabati.

Menurut Valdy, para pelaku usaha kini perlu mencermati kemungkinan adanya pergeseran pasar dan potensi substitusi bagi produk-produk Indonesia oleh negara lain seperti India, Malaysia, China, serta beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

"Dalam jangka pendek, dampak langsung yang diperkirakan terjadi adalah pelemahan nilai tukar rupiah," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Kamis (3/4/2025).

Selain itu, dia menyebut penerapan tarif baru ini dapat menekan ekspor dan mengurangi surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Selain Indonesia, beberapa negara lain juga terkena tarif resiprokal tinggi, seperti Kamboja sebesar 49%, Vietnam 46%, Sri Lanka 44%, Bangladesh 37%, Thailand 36% dan Taiwan 32%. 

Sementara itu, Head of Research dari NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama menyatakan penerapan tarif timbal balik sebesar 32% berisiko mengakhiri surplus neraca perdagangan Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

Per Februari 2025, Indonesia surplus US$3,12 miliar karena didorong penurunan impor domestik akibat tekanan sosial yang semakin meningkat. Capaian itu adalah surplus selama 58 bulan beruntun sejak Mei 2020. Akan tetapi, lebih rendah dibandingkan dengan surplus Januari 2025 yang mencapai US$3,45 miliar.  

“Tarif baru dari Trump dapat mengakhiri surplus ini, terutama karena AS merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia,” ucap Ezaridho dalam keterangan tertulis.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper