Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas turun ke level terendah seminggu karena investor melakukan aksi profit-taking di tengah kekhawatiran ketidakstabilan seputar rencana tarif Presiden AS Donald Trump. Saat yang sama, harga batu bara dan CPO juga mengalami pelemahan.
Melansir Reuters pada Rabu (26/2/2025), harga emas di pasar spot turun 1,4% menjadi US$2.909,59 per ounce, setelah mencapai level terendah sejak 17 Februari di awal sesi. Emas sempat menyentuh level tertingginya di US$2.956,15 pada Senin. Sementara itu, harga emas berjangka AS melemah 1,5% ke US$2.918,80 per ounce.
"Anda melihat aksi ambil untung serta orang-orang yang ingin mengambil posisi sideline dan membangun kembali posisi pada harga yang lebih rendah," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.
Sejauh ini, emas safe-haven telah mencapai sebelas rekor tertinggi tahun ini, melampaui angka signifikan US$2.950 per ounce.
Sementara itu dalam pembukaan perdagangan pagi ini (26/2), pukul 6.52 WIB, harga emas di pasar spot naik 0,1% menjadi US$2.919,96 per troy ounce.
Sebelumnya, Trump mengatakan pada Senin bahwa tarif impor Kanada dan Meksiko tetap sesuai jadwal meskipun ada upaya dari kedua negara untuk meningkatkan keamanan perbatasan dan menghentikan aliran fentanil ke AS sebelum batas waktu 4 Maret.
Baca Juga
"Saya masih berpikir bahwa ada cukup banyak ketidakpastian di luar sana terkait dengan tarif dan perdagangan secara umum… penurunan akan terus dipandang sebagai peluang pembelian," kata Peter Grant, Wakil Presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals.
Spekulan emas memangkas posisi beli bersih sebanyak 13.605 kontrak menjadi 201.962 dalam pekan hingga 18 Februari.
Sementara itu, investor dan ekonom memperkirakan Federal Reserve AS akan merespons perubahan inflasi dan pasar tenaga kerja dengan "kuat dan sistematis", menurut penelitian yang diterbitkan pada Senin oleh The Fed San Francisco.
Inflasi yang lebih tinggi mungkin memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga Batu Bara
Sementara itu, berdasarkan data dari Bar Chart, harga batu bara kontrak Februari 2025 di ICE Newcastle pada penutupan perdagangan Selasa (25/2/2025) turun 0,24% ke level US$102 per metrik ton. Adapun harga batu bara kontrak Maret 2025 melemah 0,87% ke level US$102,10 per metrik ton.
Mengutip Bloomberg, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan AS harus menghentikan penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara. Menurutnya, sumber energi tersebut akan tetap penting bagi sistem tenaga listrik AS dalam dekade mendatang.
“Kami berada di jalur untuk terus menyusutkan listrik yang dihasilkan dari batu bara. Hal ini membuat listrik menjadi lebih mahal dan jaringan kita kurang stabil," kata Wright.
Pernyataan Wright muncul ketika permintaan listrik meningkat untuk memenuhi kebutuhan pusat data, pabrik baru, dan elektrifikasi perekonomian secara keseluruhan.
Presiden Donald Trump telah menyerukan sumber energi yang lebih stabil sambil mengkritik energi terbarukan sebagai hal yang tidak dapat diandalkan. Meski pembangkit listrik berbahan bakar gas diperkirakan akan memasok sebagian besar kebutuhan tersebut, Trump bulan lalu menyarankan bahan bakar fosil sebagai sumber listrik untuk pusat data.
Namun, Wright mengakui bahwa kebangkitan kembali penggunaan batu bara tidak mungkin terjadi. Pembangkit listrik tenaga batu bara kesulitan bersaing dengan harga murah gas alam dan energi terbarukan serta menghadapi penolakan regulasi karena dianggap sebagai bahan bakar fosil yang kotor.
Batu bara saat ini menyumbang sekitar 15% dari pembangkit listrik di AS, turun dari sekitar 50% pada tahun 2000, menurut Administrasi Informasi Energi AS.
“Hal terbaik yang bisa kita harapkan dalam jangka pendek adalah menghentikan penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara,” kata Wright. “Tidak ada yang diuntungkan dari kebijakan itu.”
Harga CPO
Sementara itu, harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) berjangka pada penutupan perdagangan Senin (24/2/2025) kontrak Maret 2025 turun 9 poin ke 4.722 ringgit per ton di Bursa Derivatif Malaysia. Kontrak April 2025 juga melemah 7 poin ke level 4.652 ringgit per ton.