Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) tengah mematangkan rencana pembelian kembali atau buyback saham selepas harga saham perseroan bergerak minus sejak paruh kedua 2024.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, saham PGEO telah terkoreksi 31,09% secara tahunan ke level Rp820 per saham. Saham PGEO sempat menyentuh level Rp1.335 per saham pada 6 Mei 2024.
“Kami kaji lebih dalam lagi untuk kami mendapatkan persetujuan dari komisaris-komisaris kami,” kata Direktur Keuangan PGEO Yurizki Rio saat temu media full year result 2024 di Jakarta, Rabu (26/3/2025).
Menurut Yurizki, harga saham PGEO saat ini tidak mencerminkan nilai riil atau fundamental dari pertumbuhan bisnis perseroan.
Di sisi lain, dia mengatakan PGEO turut menangkap peluang relaksasi aturan ihwal buyback dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama 6 bulan mendatang.
“Kami melihat ada peluang untuk ambil manfaat dari sini, harga saham kami sudah tidak mencerminkan nilai fundamental,” katanya.
Seperti diberitakan Bisnis, ketentuan tentang buyback tanpa RUPS tertuang dalam POJK Nomor 29 Tahun 2023 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan Oleh Perusahaan Terbuka dan Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kebijakan dalam Menjaga Kinerja dan Stabilitas Pasar Modal pada Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan.
Ditambah lagi, Surat OJK Nomor S-17/D.4/2025 tanggal 18 Maret 2025 perihal Kebijakan Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan.
Di sisi likuiditas, PGEO mencatat kenaikan arus kas operasional dari US$255,19 juta pada 2023 menjadi US$258,29 juta pada 2024. Hal itu dinilai mencerminkan stabilitas pendapatan dan efektivitas pengendalian biaya.