Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat ke posisi Rp16.347,5 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (29/8/2025). Pada saat bersamaan, greenback juga mengalami apresiasi.
Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka menguat tipis 5 poin atau 0,03% menuju Rp16.347,5 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melesat 0,22% menjadi 98,03.
Sementara itu, mata uang di Asia dibuka bervariasi. Yen Jepang, semisal, melemah 0,08% bersama won Korea sebesar 0,22%. Sementara itu, rupee India dan peso Filipina masing-masing mencatat penguatan 0,06% dan 0,25% terhadap dolar AS.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury/UST) tenor pendek mencatatkan penurunan pada Agustus 2025, sementara tenor panjang cenderung bertahan di tengah ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed.
Dia mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah melemah dalam 2 hari terakhir dan ditutup di atas Rp16.300 per dolar AS. Pelemahan tersebut berlangsung seiring dengan indeks dolar AS (DXY) yang konsisten bertahan di atas level 98.
"Kami melihat bahwa hal ini dipengaruhi oleh sentimen global, dimana indeks Dollar AS [DXY] selama beberapa hari terakhir konsisten berada di atas level 98,” pungkas Rully melalui riset yang dipublikasikan pada Jumat (29/8/2025).
Namun, sepanjang Agustus 2025, rupiah cenderung mengalami pergerakan positif dengan kenaikan 0,7% month to date (MtD). Namun, kenaikan ini masih di bawah apresiasi yang dialami baht Thailand sebesar 1% MtD, kemudian ringgit Malaysia mencatat kenaikan 0,5% MtT, dan peso Filipina melonjak 2,1% MtD.
Sementara itu, dia memaparkan bahwa mata uang negara maju juga menunjukkan kinerja lebih kuat. Euro, yen Jepang, dan pound sterling masing-masing terapresiasi 2,0% MTD, 2,4% MTD, dan 2,2% MTD sepanjang Agustus 2025.
Dari pasar obligasi, yield UST tenor 2 tahun turun 33,4 basis poin sepanjang bulan ini menjadi 3,623%. Adapun tenor 10 tahun turun 14,4 basis poin ke level 4,23%. Sebaliknya, yield obligasi 30 tahun justru naik tipis 0,3 basis poin ke level 4,903%.
Menurut Rully, pergerakan yield ini dipengaruhi ekspektasi tinggi terhadap penurunan suku bunga acuan The Fed atau Fed Funds Rate (FFR) pada September. Namun, perbedaan respons di tiap tenor mencerminkan tingkat ketidakpastian yang berbeda.
“Terutama kecenderungan tenor panjang yang tidak mengalami penurunan imbal hasil karena tingginya ketidakpastian dalam jangka panjang,” ucap Rully.
Dia menilai hal itu berkaitan dengan kekhawatiran akan keberlanjutan kondisi fiskal AS karena dampak kebijakan Donald Trump, yang kemungkinan memicu pelebaran defisit dalam jangka panjang sehingga menyebabkan tingginya penerbitan UST.