Bisnis.com, JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencetak kinerja positif dengan membukukan pertumbuhan laba bersih di tengah meningkatnya pendapatan terkait transaksi bursa sepanjang semester I/2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang terbit di harian Bisnis Indonesia, Jumat (29/8/2025), BEI meraih laba bersih sebesar Rp279,72 miliar pada paruh pertama tahun ini. Realisasi tersebut naik 1,76% dari periode sama tahun lalu Rp274,89 miliar.
Kenaikan laba bersih ini sejalan dengan raihan pendapatan BEI yang tumbuh 8,75% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1,39 triliun pada semester I/2025.
Kontributor utama pertumbuhan berasal dari pendapatan terkait transaksi bursa yang mencapai Rp1,01 triliun atau naik 7,26% secara tahunan dari posisi Rp943,67 miliar.
Secara terperinci, pendapatan dari jasa transaksi efek mencapai Rp515,71 miliar, jasa kliring sebesar Rp260,57 miliar, jasa pencatatan meraih Rp132,58 miliar, sementara jasa informasi dan fasilitas lainnya berkontribusi Rp103,28 miliar.
Sementara itu, pendapatan non-transaksi bursa relatif stagnan di Rp84,26 miliar atau meningkat 0,21% YoY dari Rp84,09 miliar. Raihan ini mayoritas disumbangkan oleh segmen pendapatan teknologi informasi yang membukukan Rp34,90 miliar.
Baca Juga : BEI Suspensi Saham Emiten Haji Isam (JARR), Buka Gembok Saham Afiliasi Tommy Soeharto (HUMI) |
---|
Seiring kenaikan pendapatan, beban pokok yang dipikul BEI juga meningkat menjadi Rp1,09 triliun, naik 13,07% dibandingkan semester I/2024 senilai Rp968,76 miliar.
Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Direktur Utama BEI Iman Rachman menjelaskan tahun ini pihaknya menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp13,5 triliun, penambahan 2 juta investor baru, serta 407 pencatatan efek.
“Kalau dilihat per 8 Agustus 2025, RNTH sudah Rp13,56 triliun dengan volume transaksi harian mencapai 22 miliar lembar saham dan frekuensi 1,29 juta kali transaksi. Mudah-mudahan ini bisa tercapai sampai akhir tahun,” ucapnya.
Dari sisi pencatatan, jumlah efek baru telah mencapai 428, terdiri atas 22 perusahaan IPO, obligasi, sukuk, ETF, Efek Beragun Aset (EBA), dan EBA SP Syariah. Total dana yang dihimpun mencapai Rp10,4 triliun dari saham dan Rp132,2 triliun dari obligasi.
Sementara itu, jumlah investor pasar modal sampai dengan 8 Agustus 2025 telah mencapai 17,57 juta, atau meningkat 2,7 juta investor dibandingkan posisi akhir 2024.
BEI juga menargetkan kehadiran perusahaan mercusuar atau lighthouse dengan target awal sebanyak imat perusahaan. Namun, dalam perkembangannya, Iman menuturkan target itu berpotensi terlewati hingga tembus enam perusahaan.
Beberapa IPO lighthouse yang sudah tercatat lebih dulu, meliputi PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU), PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK), dan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.