Menurutnya, dengan adanya investasi dan transfer teknologi, Indonesia berpotensi mampu menghasilkan produk bernilai tambah. Secara praktis, hal ini pun tecermin dari kenaikan harga saham nikel, seperti NCKL, HRUM, dan sebelumnya INCO.
Untuk diketahui, pembangunan fasilitas HPAL berkapasitas 66.000 ton nikel itu akan melibatkan emiten BUMN, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) serta mitra global lainnya.
Kabar ini lantas menyengat harga saham INCO hingga naik 6,08% pada perdagangan Rabu (27/8). Akan tetapi, saham anggota holding MIND ID tersebut kemudian merosot 1,04% menuju level Rp3.800 seiring dengan aksi ambil untung.
Sharon Natasha, Research Retail Analyst CGS International Sekuritas Indonesia, menuturkan bahwa selain dipicu oleh aksi Danantara, sentimen positif INCO juga datang dari persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Persetujuan itu memungkinkan perseroan untuk menjual 2,2 juta ton bijih saprolite dari tambang Bahodopi, Sulawesi Tengah, mulai Juli 2025. Aksi tersebut juga diproyeksikan mendorong kinerja keuangan pada semester II/2025.
“Artinya ini ada potensi untuk kinerja INCO terdongkrak pada semester II/2025, karena dari sisi penjualan bijih saprolite,” pungkas Sharon.