Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indeks BUMN Ambruk di Pekan Peluncuran Danantara, Saham BBRI BMRI Cs Dilego Asing

Indeks saham emiten pelat merah atau BUMN mencatatkan kinerja jeblok di pekan BPI Danantara meluncur. Saham bank BUMN terpantau dilego asing.
Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta. Bisnis/Abdurachman
Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jakarta. Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks saham emiten pelat merah atau BUMNyang tercermin lewat IDX BUMN20 mencatatkan kinerja jeblok pada pekan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) meluncur.

Saham emiten BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) hingga PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) terpantau ramai dijual asing.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks IDX BUMN20 ambruk dengan penurunan 5% pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (28/2/2025) ke level 306,93. IDX BUMN20 sudah melorot 10,1% dalam sepekan perdagangan. 

IDX BUMN20 juga masih di zona merah, melemah 13,19% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025.

Saham bank pelat merah atau himpunan bank milik negara (Himbara) yang menjadi penopang indeks BUMN pun berguguran. Harga saham BBRI misalnya jeblok 7,44% pada perdagangan hari ini dan turun 13,62% dalam sepekan perdagangan. 

Lalu, saham BMRI turun 1,29% pada perdagangan hari ini dan melorot 9,36% dalam sepekan perdagangan terakhir. Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) anjlok 7,14% pada perdagangan hari ini dan melorot 6,28% dalam sepekan.

Selain itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) melorot 5,62% pada perdagangan hari ini dan melorot 11,32% dalam sepekan. 

Deretan saham BUMN tersebut banyak dijual asing. Pada perdagangan hari ini, saham BBRI misalnya mencatatkan nilai jual asing (net sell) asing sebesar Rp879,31 miliar. Dalam sepekan saham BBRI pun mencatatkan net sell asing sebesar Rp2,15 triliun. 

Kemudian, saham BMRI mencatatkan net sell asing sebesar Rp154,34 miliar pada perdagangan hari ini. Dalam sepekan, saham BMRI mencatatkan net sell asing sebesar Rp1,13 triliun. 

Selain itu, saham BBNI mencatatkan net sell asing sebesar Rp233,57 miliar pada perdagangan hari ini dan net sell asing sebesar Rp207 miliar dalam sepekan.

Jebloknya indeks BUMN terjadi dalam sepekan di tengah momentum peluncuran Danantara. Sebagaimana diketahui, Presiden RI Prabowo Subianto telah meluncurkan Danantara pada Senin (24/2/2025). 

Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia ini akan menjadi superholding bagi 7 BUMN dengan total aset yang dikelola mencapai US$900 miliar. Tujuh BUMN itu adalah BMRI, BBRI, BBNI, PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), TLKM, dan MIND ID.

Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan sebenarnya salah satu tujuan utama Danantara adalah menjadikan BUMN lebih kompetitif, sejalan dengan upaya peningkatan efisiensi dan transparansi pengelolaan.

Dengan tujuan itu, dia meyakini entitas di bawah naungan Danantara berpotensi besar menjadi pemimpin industri baik di dalam negeri maupun kawasan Asia.  

Hal tersebut dinilai akan berkorelasi positif dengan potensi kenaikan pendapatan emiten BUMN, sehingga secara simultan mendorong kapitalisasi pasar.

Dia menyampaikan bahwa secara global, sekitar 58% dana yang dikelola oleh SWF berasal dari ekuitas atau pasar saham. Oleh karena itu, pasar modal akan berperan besar dalam mendukung Danantara ke depan.  

Hingga akhir Desember 2024, Iman menyampaikan bahwa sebanyak 12 BUMN dan anak usahanya yang tergabung di dalam Danantara memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp1.893 triliun atau sekitar 15% nilai kapitalisasi pasar BEI. 

Jika ditelisik dari nilai transaksi, BUMN dan entitas anak juga memberikan kontribusi signifikan dengan porsi mencapai 27% dari total nilai transaksi di BEI.

“Danantara memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kapitalisasi pasar Indonesia. Namun, diperlukan waktu untuk membangun kepercayaan pasar dan membuktikan efektivitas model bisnisnya,” ucapnya pada Jumat (28/2/2025) di Gedung BEI.

Equity Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan juga mengatakan Danantara sebagai superholding BUMN memang menjadi sorotan pasar belakangan ini. Namun, menurutnya momentum peluncuran Danantara oleh pemerintah belum cukup kuat untuk menarik minat investor asing maupun menggerakkan pasar. 

Ia mengatakan pelaku pasar masih menunggu kepastian mengenai susunan manajemen Danantara dan strategi pengelolaannya ke depan. Lebih lanjut, dia melihat bahwa saham-saham BUMN khususnya big caps masih mengalami tekanan jual yang cukup besar.  

"Apabila valuasinya sudah terlalu rendah, ada kemungkinan investor akan melihat ini sebagai peluang bargain hunting, terutama bagi emiten yang memiliki fundamental kuat dan potensi dividen menarik," ucapnya.

Untuk IDX BUMN20, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menilai pelemahan pada awal 2025 terjadi dipengaruhi juga oleh kinerja keuangan yang kurang memuaskan dari Himbara, yang menjadi kontributor utama indeks.

Berdasarkan Laporan Keuangan, BBRI misalnya membukukan laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada entitas pemilik sebesar Rp60,15 triliun per 2024, hanya tumbuh 0,09% secara tahunan (year on year/yoy).

Lalu, laba bersih BMRI mencapai Rp55,78 triliun per 2024, naik 1,31% yoy. Kemudian, laba bersih BBNI naik 2,65% yoy menjadi Rp21,46 triliun per 2024.

"Pertumbuhan laba yang tipis menunjukkan tekanan dari biaya dana tinggi serta pelambatan pertumbuhan kredit," katanya kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu.

Meski begitu, menurutnya indeks berpotensi rebound jika ada perbaikan fundamental, seperti pemulihan konsumsi, stimulus fiskal, atau kebijakan suku bunga yang lebih akomodatif. Selain itu, indeks bisa rebound apabila ada perbaikan aliran dana asing ke saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big caps.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Dwi Nicken Tari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper