Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street kembali terguncang untuk hari kedua berturut-turut pada Jumat (4/4/2025), dengan indeks Nasdaq Composite masuk ke wilayah pasar bearish di tengah meningkatnya tensi perang dagang global.
Melansir Reuters, Sabtu (5/4/2025), indeks Nasdaq terjun 962,82 poin atau 5,82% ke level 15.587,79—resmi masuk pasar bearish dari rekor tertingginya 20.173,89 pada 16 Desember.
Sementara itu, indeks Dow Jones juga anjlok 2.231,07 poin atau 5,50% ke 38.314,86, mengonfirmasi koreksi dari puncak Desember lalu. S&P 500 tergelincir 322,44 poin atau 5,97% dan menutup pekan di 5.074,08, level terendah dalam 11 bulan terakhir.
Ketiga indeks Wall Street ini mencatat penurunan dua hari terbesar sejak kepanikan akibat virus corona pada masa awal pemerintahan Donald Trump. Dalam dua hari, Dow merosot 9,3%, S&P 500 terpangkas 10,5%, dan Nasdaq longsor 11,4%.
Dalam sepekan, S&P 500 anjlok 9,1%, Dow turun 7,9%, dan Nasdaq terpukul hingga 10%.
Kebijakan tarif agresif Presiden Donald Trump mengguncang pasar, menimbulkan kecemasan resesi global dan menguapkan nilai triliunan dolar dari pasar saham AS. Indeks Volatilitas CBOE yang menjadi barometer kepanikan investor melonjak ke level tertingginya sejak April 2020.
Baca Juga
Sejak Rabu malam, ketika Trump meningkatkan tarif ke level tertinggi dalam lebih dari 100 tahun, investor ramai-ramai melepas saham karena khawatir cemas akan konsekuensi ekonomi dalam negeri maupun aksi balasan dari mitra dagang global.
Volume perdagangan di bursa AS memecahkan rekor tertinggi dengan volume tranaksi mencapai 26,79 miliar saham pada Jumat, melampaui rekor sebelumnya pada Januari 2021.
Kepala analis Interactive Brokers Steve Sosnick mengatakan saat ini pelemahan pasar saham akan bergantung pada keteguhan pemerintah Trump mempertahankan kebijakan tarif agresif ini.
"Seberapa dalam jurangnya kini tergantung pada seberapa teguh pemerintah mempertahankan kebijakan ini, yang jelas-jelas tidak mendapat restu pasar," ujarnya.
Gelombang reaksi dari pemerintah dunia mulai bermunculan pada Jumat, menambah kekhawatiran bahwa krisis ini bisa menjalar menjadi resesi global. JP Morgan kini memperkirakan peluang terjadinya resesi global mencapai 60% sebelum akhir tahun, naik signifikan dari proyeksi sebelumnya sebesar 40%.
China merespons dengan mengumumkan tarif tambahan 34% terhadap seluruh produk AS mulai 10 April. Di Eropa dan Pasifik, perdana menteri Inggris, Australia, dan Italia melakukan pembicaraan untuk merespons manuver dagang Trump.
“Kita sedang memasuki wilayah tak bertuan dalam perang dagang,” kata Direktur UBS Wealth Management Mariam Adams.
Ketua The Fed Jerome Powell untuk pertama kalinya angkat bicara sejak pengumuman tarif. Ia memperingatkan bahwa lonjakan tarif ini bisa memicu inflasi tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadi tantangan serius bagi para pembuat kebijakan moneter.
Kepanikan pasar mendorong lonjakan permintaan atas obligasi pemerintah AS, menurunkan imbal hasil obligasi 10 tahun di bawah 4%.
Sektor perbankan kembali tertekan, baik di dalam maupun luar negeri, terdampak potensi pemangkasan suku bunga dan bayangan perlambatan ekonomi. Indeks perbankan S&P merosot 7,3%.
Seluruh 11 sektor di indeks S&P mencatat penurunan lebih dari 4,5%, dengan sektor energi menjadi penekan utama untuk hari kedua berturut-turut menyusul penurunan harga minyak mentah AS sebesar 7,3%.
Saham perusahaan China yang terdaftar di AS seperti JD.com, Alibaba, dan Baidu mengalami pelemahan tajam, masing-masing turun lebih dari 7,7%.
Raksasa teknologi dengan eksposur besar ke China ikut terdampak. Apple, misalnya, tergerus 7,3%. Indeks saham produsen chip turun 7,6% setelah sehari sebelumnya merosot hampir 10%.