Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Adu Cuan Bank Digital: Allo Bank (BBHI), Bank Jago (ARTO) hingga SeaBank

Bank digital mulai Allo Bank (BBHI) besutan Chairul Tanjung, Bank Jago (ARTO) hingga SeaBank induk Shopee meraih pertumbuhan laba di 2024, siapa paling moncer?
Ilustrasi bank digital/Freepik
Ilustrasi bank digital/Freepik

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank digital telah membukukan kinerja profitabilitas moncer, dengan laba bertumbuh di tengah tantangan perekonomian pada 2024, didorong oleh berbagai faktor.

Berdasarkan laporan keuangan, salah satu bank digital yakni PT Bank Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) membukukan laba bersih sebesar Rp467,1 miliar pada 2024. Raupan laba bank digital milik konglomerat Chairul Tanjung ini berhasil tumbuh 5,07% secara tahunan (year on year/yoy).

Meskipun kinerja laba Allo Bank tumbuh tipis, namun Allo Bank tetap menjadi bank digital dengan raupan laba tertinggi di Indonesia.

Kinerja laba bank ditopang oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang juga naik 7,78% yoy menjadi Rp1,11 triliun pada 2024.

Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo mengatakan kinerja operasional yang membaik menjadi salah satu pendorong pertumbuhan laba di tengah tantangan perekonomian sepanjang tahun lalu.

"Pada akhir 2024, kami telah memiliki 11 juta pelanggan dengan jumlah transaksi yang terus meningkat, sehingga Allo Bank mampu mencatatkan kinerja positif pada berbagai metric operasional dan finansial,” kata Indra dalam keterangan tertulis pada beberapa waktu lalu.

Bank digital milik induk Shopee Sea Group, PT Bank SeaBank Indonesia pun berhasil mencatatkan laba bersih Rp378,76 miliar pada 2024, tumbuh 56,85% yoy.

"Pertumbuhan [laba] kami pada 2024 juga mengikuti tren industri yang saya lihat memiliki kinerja positif," kata Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley dalam media briefing di Jakarta pada beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, SeaBank mencatatkan pendapatan bunga bersih turun menjadi Rp5,39 triliun dari sebelumnya Rp5,78 triliun. Namun, SeaBank berhasil menyusutkan kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) 20,89% yoy menjadi Rp3,75 triliun.

PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) kemudian telah membukukan laba bersih sebesar Rp214,99 miliar pada 2024, naik 20,8% yoy. Raupan laba Bank Amar ditopang oleh NII yang naik 24,31% yoy menjadi Rp1,22 triliun pada 2024.

Kemudian, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) telah mencatatkan laba bersih sebesar Rp128,51 miliar pada 2024, tumbuh 77,6% yoy.

Padahal, kinerja pendapatan bunga bersih ARTO sebenarnya turun 0,76% yoy menjadi Rp1,55 triliun pada 2024. Namun, bank berhasil mencatatkan peningkatan pada pendapatan operasional lainnya menjadi Rp290,95 miliar pada 2024, dari Rp197,02 miliar pada 2023.

Bank Jago pun berhasil menyusutkan impairment menjadi Rp304,03 miliar pada 2024, dari Rp401,3 miliar pada 2023.

"Dinamika ekonomi dan politik, baik di dalam negeri maupun global, menjadikan tahun 2024 penuh tantangan. Namun Bank Jago berhasil melewati 2024 dengan pencapaian yang positif dengan mencatatkan pertumbuhan bisnis yang kuat,” kata Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris Tandjung dalam keterangan tertulis.

Bank digital lainnya pun berhasil membukukan kinerja laba yang bertumbuh pada 2024. PT Bank Digital BCA alias Blu membukukan laba senilai Rp107,97 miliar sepanjang 2024, naik 134,49% yoy. Kinerja laba bank didorong oleh NII yang naik 61,81% yoy menjadi Rp984,96 miliar.

PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) telah membukukan laba bersih sebesar Rp50,89 miliar pada 2024, tumbuh 108,9% yoy. Bank Raya pun membukukan peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 17,25% yoy hingga mencapai Rp571,97 miliar.

Adapun, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) berhasil mencetak laba sebesar Rp19,88 miliar pada 2024, dibandingkan rugi sebesar Rp574,18 miliar pada 2023.

Padahal, NII bank turun 8,3% yoy menjadi Rp2,85 triliun pada 2024. Namun, beban impairment BBYB telah berkurang dari Rp2,68 triliun pada 2023, menjadi Rp2,31 triliun pada 2024.

Akan tetapi, masih terdapat bank digital yang membukukan kinerja rugi. Bank digital kongsi Grab dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), PT Super Bank Indonesia (Superbank) misalnya masih membukukan rugi bersih sebesar Rp366,36 miliar pada 2024. Meskipun, kerugian bank menyusut dibandingkan rugi pada 2023 sebesar Rp385,1 miliar.

Penyusutan rugi Superbank didorong oleh peningkatan pesat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 102,42% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp609,5 miliar. 

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan mengatakan kerugian yang dicatat bank sejauh ini terjadi seiring dengan upaya pengembangan platform. Setelah pengembangan platform, kinerja keuntungan pun menurutnya akan semakin baik.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper