Bisnis.com, JAKARTA – PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) berencana melakukan pembelian kembali atau buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp1 triliun. Aksi korporasi ini akan dilakukan pada 27 Maret hingga 27 Juni 2025.
Melansir keterbukaan informasi yang dikutip pada Rabu (2/4/2025), manajemen Mayora menjelaskan bahwa dana buyback akan berasal dari saldo kas internal.
“Perseroan telah menyisihkan sejumlah untuk buyback yang berasal dari dana lebih yang tidak akan mengganggu operasional perseroan,” ujar manajemen Mayora.
Dana sebesar Rp1 triliun itu akan dikeluarkan MYOR selama periode 27 Maret – 27 Juni 2025, termasuk biaya transaksi, biaya perantara perdagangan, dan biaya lainnya yang sehubungan dengan transaksi pembelian kembali.
Kendati begitu, Manajemen Mayora tidak memerinci jumlah saham yang akan dibeli. Kendati demikian, saham yang akan dibeli kembali disebut tidak akan melebihi 20% dari jumlah modal yang ditempatkan perseroan.
“Perseroan berpandangan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan berdampak secara material terhadap kinerja usaha dan pendapatan perseroan karena saldo laba dan arus kas saat ini masih mencukupi kebutuhan dana untuk pelaksanaan buyback.”
Baca Juga
Berdasarkan laporan keuangan 2024, MYOR mencatat kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp4,6 triliun atau naik dari posisi tahun sebelumnya yakni Rp4,15 triliun. Adapun ekuitas perseroan tercatat mencapai Rp17,10 triliun.
Dalam pemberitaan Bisnis.com sebelumnya, MYOR disebut menjadi salah satu emiten konsumer yang berpotensi memanfaatkan momentum buyback tanpa persetujuan pemegang saham yang digulirkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain karena price-to-earnings ratio (PER) berada dalam kisaran menarik, MYOR juga memiliki posisi kas bersih sehingga berpotensi memanfaatkan kebijakan tersebut.
Willy Goutama, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, menilai pelonggaran buyback dapat menjadi momentum menarik untuk mencermati saham-saham konsumer.
“Relaksasi OJK berpotensi mendorong lebih banyak emiten konsumer untuk melakukan buyback, karena sebagian besar dari mereka memiliki arus kas bebas yang kuat dan rasio kepemilikan kas terhadap kapitalisasi pasar yang tinggi,” kata Willy.
Maybank Sekuritas sendiri masih menjadikan MYOR sebagai saham konsumer pilihan utamanya dengan rekomendasi beli dan target harga Rp3.500 per saham.
“Rekomendasi beli utama kami mencakup MYOR, ICBP, dan MAPI, sementara rekomendasi jual utama diberikan kepada GGRM, LPPF, dan UNVR,” ungkap Willy.
Dia menuturkan beberapa risiko yang dapat memberikan tekanan terhadap sektor konsumer, antara lain kenaikan biaya bahan baku, potensi pengenaan pajak gula, serta kemunculan pesaing baru dengan strategi yang lebih agresif.
_____________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.