Bisnis.com, JAKARTA — PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO), entitas usaha Lippo Group, meraih pinjaman sindikasi senilai Rp14,5 triliun dari BNI hingga BCA.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dikutip Rabu (2/4/2025), SILO resmi meneken perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi pada 24 Maret 2025 dengan melibatkan 6 bank sebagai Mandated Lead Arrangers and Bookrunners (MLAB).
Mereka adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) selaku agen fasilitas dan jaminan, PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank DBS Indonesia, MUFG Bank Ltd Jakarta Branch, dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited Singapore Branch.
Pinjaman tersebut terdiri dari term loan dengan tenor tujuh tahun, revolving credit facility, serta fasilitas pendukung lainnya. Fasilitas pinjaman ini akan digunakan untuk mendukung ekspansi bisnis serta penguatan struktur permodalan SILO.
“Rencana transaksi ini akan membawa dampak positif bagi perseroan dan sejalan dengan rencana ekspansi bisnis dan strategi perseroan,” ujar Sekretaris Perusahaan Siloam, Ratih Hadiwinoto, dalam surat kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ratih juga menyampaikan bahwa penandatanganan perjanjian fasilitas tersebut melibatkan penjaminan aset lebih dari 50% dari total aset bersih perseroan.
Baca Juga
Terkait dengan kinerja keuangan, SILO membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp902,1 miliar, turun 25,5% secara tahunan dibandingkan laba bersih 2023 yang mencapai Rp1,21 triliun.
Meski laba bersih mengalami penurunan, pendapatan SILO justru meningkat 9,1% secara tahunan dari Rp11,19 triliun menjadi Rp12,2 triliun pada 2024.
Kinerja itu ditopang oleh sektor rawat inap yang berkontribusi sebesar Rp6,7 triliun, naik 5% year-on-year (YoY) dari posisi Rp6,3 triliun. Adapun pendapatan dari rawat jalan mencapai Rp5,4 triliun, tumbuh 14,4% secara tahunan.
Pendapatan dari rawat inap pada 2024 diperoleh dari obat dan perlengkapan medis sebesar Rp2,3 triliun, jasa penunjang medis dan jasa tenaga ahli Rp2 triliun, fasilitas rumah sakit Rp785,8 miliar, kamar rawat inap Rp798,7 miliar, kamar operasi Rp313,6 miliar, serta pendapatan administrasi sebesar Rp421,7 miliar.
Sementara itu, pendapatan rawat jalan terdiri dari jasa penunjang medis dan jasa tenaga ahli sebesar Rp3,16 triliun, obat dan perlengkapan medis Rp1,8 triliun, fasilitas rumah sakit Rp162 miliar, serta pendapatan administrasi sebesar Rp293,7 miliar.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan SILO mengalami kenaikan 9% YoY menjadi Rp7,3 triliun pada 2024. Kendati demikian, laba bruto perusahaan tetap meningkat 9,1% menjadi Rp4,8 triliun dari posisi Rp4,4 triliun pada 2023.
Total aset SILO tercatat sebesar Rp14,2 triliun pada 2024, naik 29,3% YoY. Perinciannya, liabilitas melonjak 85,8% YoY menjadi Rp5,4 triliun, sedangkan ekuitas SILO tumbuh 8,7% menjadi Rp8,7 triliun sepanjang tahun lalu.
Presiden Direktur Siloam David Utama menyatakan bahwa perseroan terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan sepanjang 2024, mencerminkan keberhasilan dari implementasi inisiatif strategis.
“Dengan peluncuran strategi Next Generation Siloam, kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada pasien sambil meningkatkan operasional rumah sakit guna memastikan stabilitas keuangan jangka panjang,” ucapnya.
_____________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.