Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Proyeksi Nasib IHSG Pekan Depan di Tengah Gejolak Aksi Demonstrasi

IHSG diprediksi melemah pekan depan akibat gejolak demo di Jakarta. Meski IHSG naik 10,63% ytd, potensi bearish terbuka.
Karyawan beraktivitas di depan layar monitor yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (09/04/2025). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan beraktivitas di depan layar monitor yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (09/04/2025). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Ringkasan Berita
  • IHSG mengalami penurunan 1,53% pada akhir pekan ini di tengah eskalasi demonstrasi, meskipun masih menguat 10,63% sepanjang tahun berjalan.
  • Demonstrasi yang memanas dan insiden terkait telah memicu kekhawatiran pasar, dengan potensi pelemahan IHSG hingga 5% pada pekan depan.
  • BEI dan OJK diharapkan memiliki langkah mitigasi untuk menghadapi gejolak politik dan ekonomi, sementara investor diimbau tetap rasional dalam mengambil keputusan.

* Ringkasan ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA — lndeks harga saham gabungan (IHSG) telah jeblok pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (29/8/2025). IHSG pun dikhawatirkan masih melanjutkan pelemahan pada perdagangan pekan depan di tengah gejolak demonstrasi yang kian panas.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melorot 1,53% ke level 7.830,49 pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (29/8/2025). Meskipun, IHSG masih di zona hijau, menguat 10,63% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025.

Pasar saham Indonesia juga mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing sebesar Rp1,12 triliun pada perdagangan akhir pekan ini. Dengan begitu, net sell asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp50,94 triliun ytd.

Adapun, jebloknya pasar saham Indonesia terjadi di tengah eskalasi demonstrasi. Aksi demonstrasi buruh dan masyarakat luas di Jakarta pada Kamis (28/8/2025) berlangsung hingga malam hari. Timbul korban jiwa seorang pengemudi ojek online (ojol) karena dilindas oleh polisi dengan mobil rantis.

Kejadian itu memicu amarah publik dan kalangan sesama pengemudi ojol. Hingga Jumat (29/8/2025) dini hari ratusan massa mendatangi markas Mako Brimob (Brigade Mobil) di Kwitang, Jakarta.

Amarah publik pun meluas hingga menimbulkan terjadinya penjarahan rumah sejumlah anggota DPR RI hingga rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan terlepas dari gejolak politik dalam negeri saat ini, kinerja IHSG secara historis periode September selama lima tahun terakhir rata-rata tergolong bearish.

"Saat ini, bila IHSG konsisten di perdagangan di bawah 7.750, maka potensi bearish consolidation phase terbuka lebar," kata Nafan kepada Bisnis pada Minggu (31/8/2025).

Sementara, ditambah gejolak politik yang terjadi menurutnya IHSG akan terpengaruh. Namun, BEI serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harusnya memiliki langkah mitigasi yang bisa dilakukan, misalnya jika terjadi panic selling maka dilakukan trading halt.

"OJK juga berperan dalam rangka memperkuat SRO untuk menjalankan fungsinya terutama di tengah kondisi politik dan keamanan yang kurang kondusif," ujar Nafan.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan kondisi perpolitikan saat ini memanas. Pemerintah memberi pernyataan agar TNI dan Polri memukul mundur pelaku demo anarkis.

"Potensi demo susulan pada September membuat kondisi perpolitikan memanas dan berdampak ke perekonomian di Indonesia. Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar akan apatis," ujar Ibrahim.

Dia memperkirakan IHSG akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan pekan depan, dengan pelemahan maksimal 5%.

Sebelumnya, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa fundamental pasar modal Indonesia masih solid.

Dia juga menyampaikan bahwa BEI tidak berencana melakukan penyesuaian aturan terkait dengan dinamika pasar ini. Menurutnya, seluruh aspek pengawasan dan operasional bursa masih berjalan sesuai dengan jalurnya.

Terpenting, kata Jeffrey, investor tetap bersikap rasional dalam mengambil keputusan investasi sehingga gejolak jangka pendek tidak menimbulkan kepanikan. 

________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ibad Durrohman
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro