Bisnis.com, JAKARTA — Emiten tambang afiliasi Garibaldi 'Boy' Thohir PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) mencatatkan penurunan kinerja sepanjang semester I/2025.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025, ADMR membukukan penurunan laba bersih menjadi US$140,49 juta atau setara Rp2,28 triliun (kurs Jisdor Rp16.231 per dolar AS 30 Juni 2025).
Adapun, ADMR membukukan pendapatan usaha sebesar US$443,94 juta atau setara Rp7,20 triliun pada enam bulan pertama 2025. Pendapatan usaha ini turun 26,87% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$607,03 juta.
Pendapatan ini dikontribusi oleh pendapatan dari pihak berelasi sebesar US$209,83 juta, dan pendapatan penjualan hasil tambang ke pihak ketiga sebesar US$234,11 juta.
Sementara itu, berdasarkan pelanggannya, pelanggan yang memiliki transaksi pendapatan lebih dari 10% dari total pendapatan usaha ADMR adalah pihak berelasi Adaro International Singapore sebesar US$88,6 juta.
Lalu pihak ketiga yaitu PT Risun Wei Shan Indonesia sebesar US$34,43 juta, dan Posco International Corporation senilai US$12,97 juta.
Baca Juga
Di sisi lain, beban pokok pendapatan ADMR turun 4,81% menjadi US$263,74 juta, dari sebelumnya pada semester I/2024 sebesar US$277,06 juta.
Meski begitu, laba bruto ADMR tercatat merosot 45,39% menjadi US$180,19 juta, dari sebelumnya per akhir Juni 2024 sebesar US$329,97 juta.
Setelah dukurangi berbagai macam yang diefisiensikan, laba bersih tahun berjalan ADMR yang dapat diattibuskin kepada pemilik entitas induk juga turun 43,52% secara tahunan menjadi US$140,49 juta atau setara Rp2,28 triliun. Laba bersih ini turun secara tahunan dari US$248,76 juta atau setara Rp4,03 triliun.
Hingga akhir semester I/2025, total aset ADMR tercatat meningkat menjadi US$2,44 miliar, dari sebelumnya sebesar US$2,07 miliar.
Adapun total liabilitas ADMR semester I/2025 juga tercatat naik menjadi US$891,42 juta dari sebelumnya sebesar US$571,3 pada akhir Desemebr 2024.
Total ekuitas ADMR juga tercatat naik menjadi US$1,55 miliar pada akhir Juni 2025, dari sebelumnya sebesar US$1,50 miliar pada akhir Desember 2024.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.