Bisnis.com, JAKARTA — Bank digital kongsi Grab dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), PT Super Bank Indonesia (Superbank) masih membukukan rugi bersih pada 2024. Adapun, Superbank sempat dikabarkan menjajaki rencana penawaran saham perdana ke publik (initial public offering/IPO) tahun ini.
Berdasarkan laporan keuangan, Superbank mencatatkan rugi bersih sebesar Rp366,36 miliar pada 2024. Meskipun, kerugian bank menyusut dibandingkan rugi pada 2023 sebesar Rp385,1 miliar.
Penyusutan rugi Superbank didorong oleh peningkatan pesat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 102,42% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp609,5 miliar.
Sejalan dengan peningkatan pendapatan bunga bersih, margin bunga bersih (NIM) juga meningkat menjadi 7,88% pada 2024 dari sebelumnya 7,18% pada 2023.
Selain itu, Superbank mencatatkan penyusutan pada kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) dari Rp131,49 miliar menjadi Rp128,33 miliar.
Adapun, Superbank mencatatkan total aset yang naik 105,09% yoy menjadi Rp11,39 triliun pada 2024. Peningkatan aset ditopang oleh kredit yang naik 33,42% yoy menjadi Rp371,7 miliar.
Baca Juga
Sementara itu, Superbank telah membukukan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp4,94 triliun melesat lima kali lipat atau 436,26% yoy. Peningkatan DPK bank didorong oleh kinerja dana murah atau current account savings account (CASA) yang melesat 845,7% serta deposito melesat 359,78% yoy.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan mengatakan kerugian yang dicatat bank sejauh ini terjadi seiring dengan upaya pengembangan platform. Setelah pengembangan platform, kinerja keuntungan pun menurutnya akan semakin baik.
Di tengah catatan rugi bank, Superbank dikabarkan berencana IPO pada tahun ini. Dilansir dari Bloomberg, sumber yang mengetahu rencana tersebut mengatakan Superbank sedang mempertimbangkan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mengincar dana penjualan saham potensial senilai US$200 juta hingga US$300 juta.
Selain itu, Superbank dikabarkan mengincar valuasi senilai US$1,5 miliar hingga US$2 miliar dalam pencatatan saham perdananya nanti. Adapun, saat ini, rencana IPO Superbank dikabarkan masih dalam tahap awal dan belum menghasilkan keputusan.
Superbank merupakan bank digital yang sebelumnya bernama PT Bank Fama International. Kemudian, Bank Fama bertransformasi menjadi bank digital dan berganti nama menjadi Superbank seiring masuknya Emtek.
Berdasarkan laman resminya, saat ini pemegang saham terbesar Superbank adalah Emtek melalui PT Elang Media Visitama dengan porsi saham 31,27%.
Selain Emtek, Singtel Alpha Investments Pte. Ltd. juga menjadi pemilik saham Superbank dan menggenggam 20,56% porsi kepemilikan.
Kemudian, Grab melalui PT Kudo Teknologi Indonesia menggenggam 19,26% porsi saham di Superbank dan AS-DB Holdings Pte. Ltd. menggenggam 11,58% porsi saham. Selain itu, bank digital asal Korea Selatan, KakaoBank Corp memegang 10% saham Superbank.