Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku pasar bersiap menghadapi ketidakpastian pada perdagangan Rabu (2/4/2025) menjelang pengumuman tarif besar-besaran dari Presiden Donald Trump. Di Tengah ketidakpastian, pasar obligasi mulai dipertimbangkan sebagai alternatif.
Mengutip Bloomberg, indeks berjangka menunjukkan potensi pelemahan saham di Hong Kong, sementara Tokyo dan Sydney diprediksi akan mengikuti jejak S&P 500 yang berbalik menguat setelah sempat melemah akibat data manufaktur dan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lemah.
Imbal hasil obligasi AS turun karena para pedagang makin meningkatkan taruhan mereka terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Sementara itu, kontrak berjangka AS sedikit menguat dalam perdagangan awal.
Menjelang pengumuman, belum ada kejelasan mengenai seberapa luas kebijakan tarif timbal balik atau balasan (reciprocal tariff) yang akan diberlakukan oleh Trump. The Wall Street Journal melaporkan bahwa tim Trump sedang mempertimbangkan opsi kompromi sebagai langkah alternatif.
Ketidakpastian ini sendiri mengguncang pasar dan memaksa para ekonom untuk memangkas proyeksi pertumbuhan mereka. Langkah Trump juga berpotensi membuat bank sentral mempertimbangkan dampak inflasi imbas dari meningkatnya biaya impor.
Tarif Trump diperkirakan akan mulai berlaku secara instan setelah pengumuman yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu sore pukul 16.00 waktu New York atau Kamis (3/4/2025) dini hari waktu Asia.
"Sentimen pasar tetap rapuh menjelang hari pengumuman tarif. Dengan cakupan kebijakan ini yang masih belum jelas, investor cenderung tetap berhati-hati. Arah pergerakan saham dalam jangka pendek masih sangat tidak menentu" kata Fawad Razaqzada dari City Index dan Forex.com kepada Bloomberg.
Pada Selasa atau Rabu dini hari, S&P 500 menguat 0,4%. Indeks yang melacak kinerja saham tujuh perusahaan berpengaruh Wall Street seperti Meta, Tesla, Amazon, Alphabet (Google) hingga Microsoft itu mengakhiri tren penurunan empat hari berturut-turut.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun turun empat basis poin menjadi 4,17%, sementara dolar AS hampir tidak mengalami perubahan, dan harga emas terkoreksi dari rekor tertingginya.
Trump diperkirakan akan mengumumkan tarif timbal balik dan berbagai kebijakan perdagangan lainnya pada hari yang disebutnya sebagai "Hari Pembebasan." Langkah ini diperkirakan akan mencakup lebih banyak sektor perdagangan dibandingkan tarif Smoot-Hawley pada 1930 yang kerap dipandang sebagai contoh buruk kebijakan proteksionisme AS.
Kebijakan tarif terbaru ini merupakan bagian dari upaya Trump untuk merombak sistem perdagangan global yang dibangun oleh AS setelah Depresi Besar. Dia meyakini bahwa kebijakan perdagangan global telah merugikan rakyat Amerika selama ini.
"Kami meragukan bahwa 'Hari Pembebasan' akan menjadi akhir dari ketidakpastian tarif," kata para analis HSBC yang dipimpin oleh Max Kettner. "Justru, kami melihat bahwa tenggat waktu 2 April ini berpotensi menciptakan lebih banyak ketidakpastian, yang dapat memperpanjang pelemahan luas di indikator ekonomi utama."
Para investor kini bersiap menghadapi periode performa positif bagi obligasi AS, setelah tanda-tanda pelemahan pertumbuhan ekonomi mendorong reli pada kuartal pertama yang menyebabkan imbal hasil obligasi 10 tahun turun sekitar setengah persen dari puncaknya pada Januari 2025.
Analisis dari Barclays Plc mencatat bahwa hedge fund berbasis tren telah beralih dari posisi beli di saham AS menjadi posisi jual, serta beralih ke obligasi Treasury dalam rotasi pasar yang masih memiliki ruang untuk berlanjut.
Meningkatnya risiko resesi di AS juga telah mendorong Pacific Investment Management Co. (Pimco) untuk merekomendasikan obligasi global sebagai sumber pengembalian yang lebih stabil.
Manajer investasi obligasi tersebut memperingatkan bahwa kebijakan Trump yang agresif dalam perdagangan, pemotongan biaya, dan imigrasi dapat memperlambat ekonomi AS lebih dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini diperkirakan akan berdampak negatif pada pasar tenaga kerja dan memperkuat pandangan bahwa investor sebaiknya mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman.
"Ada alasan kuat untuk melakukan diversifikasi dari saham AS yang sudah terlalu mahal ke portofolio obligasi global berkualitas tinggi," tulis Tiffany Wilding dan Andrew Balls dari Pimco dalam sebuah catatan.
Menurut mereka, pasar saat ini memasuki fase awal dari periode multitahun di mana obligasi memiliki potensi untuk mengungguli saham dengan profil risiko yang lebih menguntungkan.