Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tips Bijak Investasi Saham Saat Pasar Saham Sedang Terpuruk

Investasi saham atau instrumen investasi lainnya selalu ada risikonya, investor pun diarahkan untuk selalu bijak dalam mengambil langkah.
Anitana Widya Puspa, Fahmi Ahmad Burhan
Jumat, 28 Maret 2025 | 14:21
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (12/11/2024)./JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (12/11/2024)./JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi saham atau instrumen investasi lainnya selalu ada risikonya. Seperti halnya saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang mengalami penurunan tajam atau anjlok akhir-akhir ini, banyak investor saham menjadi panik dan cemas. 

Panik dan cemas itu manusiawi, tetapi jika hal itu berubah menjadi ketakutan yang berlebihan maka bisa sampai pada titik keputusan yang tidak bijak seperti panic selling.

Menurut Community & Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas Angga Septianus dengan memiliki strategi yang tepat saat pasar anjlok atau terpuruk sangat penting untuk meminimalkan kerugian dan memaksimalkan peluang keuntungan dalam jangka panjang.

Terlebih dihadapkan pada kondisi market yang sedang volatile saat Ramadan ini dan berpotensi berlanjut hingga setelah Idul Fitri karena secara historis setelah Lebaran 2021, 2022 dan 2024 IHSG mengalami koreksi pasca libur panjang,.

“Memiliki strategi yang tepat saat pasar anjlok atau terpuruk sangat penting untuk meminimalkan kerugian dan memaksimalkan peluang keuntungan dalam jangka panjang,” ujar Angga dalam keterangan tertulis pada beberapa waktu lalu.

Berikut tips untuk investasi saat pasar saham anjlok agar risiko terkelola dengan lebih baik:

1. Sediakan cash untuk kondisi yang belum stabil

Langkah pertama yang perlu diambil adalah memastikan memiliki cadangan dana dalam bentuk cash atau setidaknya likuiditas yang cukup. Harga-harga saham yang turun tajam disertai ketidakpastian ekonomi bisa memengaruhi keputusan ekstrem seperti terpaksa menjual saham dengan harga yang sangat rendah untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Cadangan cash yang cukup juga penting untuk membeli saham dengan harga lebih murah di waktu yang lebih tepat.

"Pastikan cash yang disediakan cukup untuk menanggung biaya hidup dalam beberapa bulan ke depan atau hingga kondisi pasar rebound untuk masuk lagi jika ada entry point menarik," saran Angga.

2. Saat asing keluar jangan buru-buru masuk

Ketika pasar anjlok sering kali ada berita bahwa investor asing sedang menarik dananya dari pasar lokal. Outflow ini menyebabkan tekanan lebih lanjut terhadap nilai tukar dan perekonomian domestik. Meskipun ada aliran keluar modal asing (capital outflow) yang bisa menjadi sinyal negatif sehingga harga-harga saham turun, jangan terburu-buru untuk masuk dan memborong saham.

Perhatikan berita ekonomi global dan lokal serta proyeksi jangka pendek tentang potensi keluar-masuknya modal asing. Jangan panik dan lakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.

3. Metode cicil investasi

Investasi di saat pasar anjlok itu berisiko, tetapi juga bisa menjadi peluang besar. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan metode cicil atau Dollar Cost Averaging (DCA). Metode cicil diperlukan karena mencoba menebak waktu terbaik untuk membeli saham (timing market) sangat sulit, apalagi saat pasar sedang volatil.

Dengan metode cicil maka bisa membeli secara berkala tanpa terlalu khawatir tentang fluktuasi harga harian. Selain itu, ketika melakukan pembelian secara bertahap maka akan mendapatkan rata-rata harga yang lebih baik, karena membeli di berbagai titik harga yakni ketika harga tinggi maupun rendah.

4. Pilih saham yang defensif

Pada saat pasar longsor saham-saham defensif seringkali menjadi pilihan yang lebih aman. Saham defensif adalah saham dari perusahaan yang cenderung memiliki stabilitas pendapatan, meskipun kondisi ekonomi sedang buruk. Contoh sektor defensif adalah sektor perbankan, barang konsumsi, kesehatan dan utilitas. Perusahaan di sektor defensif biasanya masih dapat menghasilkan pendapatan yang cukup stabil, bahkan saat pasar sedang buruk saham-saham defensif cenderung lebih cepat rebound setelah penurunan pasar karena permintaan produk mereka tidak terlalu dipengaruhi oleh siklus ekonomi.

5. Amati aliran dana asing (foreign flow)

Mengamati foreign flow atau aliran dana asing masuk dan keluar dari pasar saham sangat penting saat market anjlok. Aliran dana asing sering kali menjadi indikator penting tentang kepercayaan investor internasional terhadap ekonomi suatu negara. Aliran dana asing yang positif bisa mempercepat rebound pasar, sementara penurunan aliran dana asing bisa memperburuk kondisi pasar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper