Bisnis.com, JAKARTA — Analis menilai prospek saham PT Essa Industries Indonesia Tbk. (ESSA) bakal tetap tumbuh solid di tengah manuver perseroan merambah bisnis sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur.
Research Analyst Henan Sekuritas Tristan Elfan Zulvanian Rifky mengatakan investasi anyar emiten kongsi Garibaldi ‘Boy’ Thohir & TP Rachmat itu bakal kelihatan mulai awal 2028 mendatang.
“Kami menilai prospek ESSA dalam bidang produksi energi ramah lingkungan cukup solid,” kata Tristan saat dihubungi, Rabu (5/2/2025).
Seperti diketahui, ESSA tengah menjajaki calon offtaker dan rekanan startegis untuk pabrik SAF mereka saat ini. ESSA menargetkan pabrik itu bisa produksi komersial pada kuartal IV/2027 atau kuartal I/2028.
Manajemen ESSA menargetkan kapasitas pabrik SAF dapat mencapai 150.000 metrik ton per tahun. ESSA merambah bisnis SAF lewat anak perusahaannya PT ESSA Sustainable Indonesia (ESI) dan PT ESSA SAF Makmur (ESM).
Di sisi lain, Tristan mengatakan, kinerja keuangan ESSA untuk periode 9 bulanan 2024 turut mencatatkan peforma yang positif.
Baca Juga
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan per 21 Oktober 2024, ESSA mencatatkan laba bersih yang dapat diatribukan kepada pemilik entitas induk sebesar US$33,56 juta atau sekitar Rp520,43 miliar (asumsi kurs Rp15.505 per dolar AS).
Torehan laba itu melesat tajam 243,69% dari posisi yang dicatatkan ESSA pada periode yang sama tahun sebelumnya di level US$9,76 juta.
Laba yang tumbuh signifikan itu didorong oleh torehan pendapatan sebesar US$230,11 juta, relatif terkoreksi tipis dari posisi periode yang sama tahun sebelumnya di level US$232,63 juta.
Menurut Tristan, kinerja keuangan ESSA bakal tumbuh seiring dengan investasi anyar pada proyek bioavtur yang mulai beroperasi komersial awal 2028 mendatang.
“Adapun nantinya tambahan pendapatan dari SAF ini akan tercatat pada tahun 2028, dan kami yakin SAF akan mendukung pertumbuhan pendapatan dari ESSA,” kata dia.
Sementara itu, Presiden Direktur dan CEO ESSA Kanishk Laroya mengatakan ekspansi bisnis itu sejalan dengan kebutuhan industri penerbangan global untuk mengurangi emisi CO2.
“Dengan mendayagunakan keahlian kami di bidang energi dan kimia, kami memposisikan ESSA di garis depan revolusi penerbangan ramah lingkungan,” kata Kanishk lewat keterangan resmi, Senin (23/12/2024).
Kanishk menargetkan perseroannya dapat menjadi pabrik bersertifikasi ISCC CORSIA pertama di Indonesia.
Menurut hitung-hitungan BRI Danareksa Sekuritas, pasar SAF masih relatif kecil pada pasar dunia, dengan produksi sebesar 1 juta ton pada 2024.
Sementara SAF berkontribusi 0,3% dari total permintaan bahan bakar jet global. Pemain terbesar di SAF secara global saat ini adalah Neste, dengan 0,5 juta ton pada 2024.
Namun, berdasarkan The Internatinoal Air Transport Association (IATA), konsumsi SAF diperkirakan akan tumbuh, mencapai 4,7% dari total permintaan bahan bakar jet global pada 2030.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.