Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah analis memberikan proyeksi gerak saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang berpotensi rebound meski di tengah ketidakpastian makroekonomi.
Sepanjang semester I/2025, BBCA meraup laba bersih Rp29 triliun atau naik 8% secara tahunan (year on year/YoY). Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan kredit 12,9% secara tahunan, dengan porsi terbesar kredit korporasi tumbuh 16,1% YoY mencapai Rp451,8 triliun per Juni 2025. Kredit komersial naik 12,6% YoY menjadi Rp143,6 triliun, dan kredit UKM meningkat 11,1% YoY hingga Rp127 triliun.
Net Interest Margin (NIM) stabil di kisaran 5,8%, sementara rasio dana murah (current account saving account/CASA) meningkat menjadi 83%.
Analis Buana Capital, James Stanley Widjaja menilai kekuatan dana murah tetap menjadi fondasi utama BBCA. BBCA menjaga loan to deposits ratio (LDR) di level 78% sehingga likuiditas tetap ample untuk mengejar peluang di paruh kedua 2025, sekaligus menjaga biaya dana (CoF) tetap rendah di 1,1%.
“Kami mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp11.150, memberikan potensi kenaikan 33%. Fundamental bank tetap kokoh meski terdapat tekanan kualitas aset, dan kami melihat peluang loan growth 6–8% masih feasible,” kata James.
Sementara itu, analis Ciptadana Sekuritas, Erni Marsella Siahaan yang menyebut BBCA tetap menjadi salah satu saham pilihan utama, berkat profil laba yang defensif, kualitas aset terjaga, serta franchise pendanaan yang bagus.
Baca Juga
“Faktor-faktor ini membuat BBCA berada dalam posisi yang kuat di tengah ketidakpastian makroekonomi,” ujar Erni.
Ciptadana mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga di Rp11.600 per saham.
Sementara itu, riset OCBC Sekuritas menyoroti 4 faktor penguat sentimen saham BBCA. Pertama, pertumbuhan kredit yang solid, sejalan dengan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, peningkatan belanja pemerintah, serta pemulihan pertumbuhan ekonomi.
Kedua, likuiditas dan permodalan yang kuat, untuk mengakomodasi peningkatan permintaan kredit. Ketiga, prinsip penyaluran kredit yang prudent, tecermin dari Loan at Risk (LAR) yang relatif rendah dan coverage ratio yang solid.
Adapun yang keempat, pendapatan berbasis komisi yang meningkat, efisiensi yang membaik, serta penguatan CASA melalui pengembangan perbankan digital.
”Kami tetap mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga di Rp11.000 per saham, dengan asumsi ROE 20,7% dan cost of equity 9,8%,” tulis analis OCBC Sekuritas Budi Rustanto.
Adapun, analis CGS Internasional, Handy Noverdanius melihat BBCA konsisten pada DNA sebagai bank transaksi dengan CASA cost terendah dan memberikan prospek beli.
“Potensi belanja pemerintah di paruh kedua tahun ini bisa menjadi katalis pertumbuhan kredit,” ujar Handy.
Dengan valuasi saat ini di kisaran 3,6–3,8x PBV 2025F, BBCA diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya yang di atas 4x. Secara historis, setiap kali saham berada di area ini, biasanya terjadi technical rebound.
Di lantai Bursa, IHSG tercatat ambrol ke level 7.830,49 atau melemah 1,53%. Sepanjang hari ini, indeks komposit bergerak pada level terendahnya di 7.765,59 dan sempat menyentuh level tertingginya 7.913,86.
Bank Central Asia (BBCA) turun 3% atau penurunan terbesar dibandingkan bank-bank besar lain ke level 8.075 usai dibuka pada 8.250 per saham pada perdagangan hari ini.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.